Tuesday, March 19, 2019

Pekerjaan Terbawa Mimpi, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tak jarang kita pulang dari kantor masih membawa setumpuk pekerjaan yang belum terselesaikan. Waktu yang ada selama di kantor seakan tak ada artinya. Besar kemungkinan karena kita mengalami kesulitan mengatur waktu sehingga membuat hal itu terjadi. Bahkan saat kita istirahat malam pun sampai terbawa mimpi. Terus bagaimana donk cara mengatasinya? Aku mau cerita cara mengatasinya. Mau baca kan? Yuk disimak. 


Kurangi Pekerjaan

Menurut dr. Jiemi Ardian, seorang dokter medis dan pskiater, salah satu cara mengatasi masalah terbawanya masalah pekerjaan hingga ke mimpi adalah dengan mengurangi pekerjaan. Maksudnya adalah mengurangi loading pekerjaan yang harus kamu lakukan.

Kalau aku, jangan sekali pun mengeluh tingginya tekanan pekerjaan kepada teman sekantor kamu. Kecuali dia adalah benar-benar sahabat kamu yang mau mendengarkan semua keluh kesah kamu. 

Soalnya kalau kamu cerita ke teman yang ambisinya nggak ketulungan buat meniti karir di kantor kamu, bisa-bisa kamu dibilang nggak mampu dan nggak cocok bekerja di kantor kalian. Kan malah jadi tambah sebel dan stres gara-gara omongannya.

Atur Respon di Antara Pekerjaan

Kita harus bisa untuk belajar melepaskan diri di sela-sela pekerjaan. Kalau tiba waktunya jam istirahat, ya beristirahat lah. Ingat, khusus buat kamu yang kerja kantoran masih “ikut” orang lain nggak usah itu namanya ngoyo­-ngoyo banget. Sesungguhnya perusahaan nggak peduli-peduli amat sama kamu apalagi sama kesehatan kamu, apalagi sama kesehatan mental kamu.

Karena kita kan hidup di negara kapitalis, semua harus serba cepat, semua harus serba terselesaikan dengan sempurna demi kemakmuran perusahaan yang membuat kita berubah menjadi robot. Padahal robot pun tetap butuh waktu istirahat, tetap butuh perawatan, ganti oli, cek mesin. Iya nggak?

Jam makan, ya makan. Jam istirahat, ya istirahat. Coba belajar benar-benar melepaskan pekerjaan saat jenuh menghampiri. Misal saja kamu bisa membaca novel, atau menulis sesuatu di buku catatan kamu, telpon orang rumah (suami, anak-anak, atau ayah ibumu), atau kamu juga bisa rencanakan makan siang ngobrol bareng teman yang bukan sekantor. Hindari pembicaraan tentang pekerjaan.

Belajar Menerima Tekanan Pekerjaan

Sikap bisa menerima tekanan pekerjaan juga harus dimiliki setiap orang yang tahu segala konsekuensinya bila bekerja di tempat tersebut. Seorang tentara pasti juga tahu kalau ada tekanan pekerjaan tersendiri saat menjalankan tugas, seperti harus selalu siaga saat diperlukan, siap diperintah kemanapun oleh komandan, siap membawa beban berat di punggungnya yang berisi perlengkapan perang, harus siap mengatasi ancaman bahaya dari serangan musuh.

Kita pun sama, semua pekerjaan ada risiko dan tekanan pekerjaannya masing-masing. Lha kok enak bekerja tapi nggak ada tekanan pekerjaan, malah bahaya untuk kemajuan perusahaan itu. Kamu yang seorang marketing tentu berbeda tekanan pekerjaannya dengan orang bagian accounting. Ya nggak usah banyak ngeluh, terima saja. Kalau sudah benar-benar nggak kuat, bisa kok bilang ke atasan kamu atau kalau perlu cari pekerjaan di tempat lain yang sekiranya bisa membuat kamu lepas dari tekanan pekerjaan yang tak kamu inginkan.

Tetap Tidak Melakukan Apa-apa

Kadang kita juga perlu yang namanya doing nothing. Tak perlu risau kalau kamu lagi nggak megang pekerjaan. Segala sesuatu ada skala prioritas, dan prioritas pun juga berhubungan dengan tenggat waktu. Tidak semua pekerjaan harus selesai sesuai tenggat waktu yang disuruh boss kamu. Kalau aku sih nyantai aja ya kalau pekerjaan di kantor memang belum kelar.

Saat pulang ke rumah, siapkan pikiran dan perasaan kamu untuk orang rumah. Kasihan juga kan kalau sampai rumah, orang yang sudah menantikan kehadiran kita malah dicuekin gara-gara mood kita jelek abis. Suami jadi ikutan bete, anak-anak jadi cemberut liat mamanya pulang-pulang mukanya kusut kayak benang kusut.

Kalau sampai berlarut-larut tentu akan membahayakan relasi yang terjalin dengan baik selama ini di rumah.

So, semoga habis baca ceritaku ini kamu nggak lagi kebawa mimpi pekerjaan kamu ya.



 image: Pawel Rekas

No comments:

Post a Comment