Tak jarang kita pulang dari kantor masih membawa setumpuk pekerjaan yang belum terselesaikan. Waktu yang ada selama di kantor seakan tak ada artinya. Besar kemungkinan karena kita mengalami kesulitan mengatur waktu sehingga membuat hal itu terjadi. Bahkan saat kita istirahat malam pun sampai terbawa mimpi. Terus bagaimana donk cara mengatasinya? Aku mau cerita cara mengatasinya. Mau baca kan? Yuk disimak.
Kurangi Pekerjaan
Menurut dr. Jiemi
Ardian, seorang dokter medis dan pskiater, salah satu cara mengatasi masalah
terbawanya masalah pekerjaan hingga ke mimpi adalah dengan mengurangi
pekerjaan. Maksudnya adalah mengurangi loading
pekerjaan yang harus kamu lakukan.
Kalau aku, jangan
sekali pun mengeluh tingginya tekanan pekerjaan kepada teman sekantor kamu.
Kecuali dia adalah benar-benar sahabat kamu yang mau mendengarkan semua keluh
kesah kamu.
Soalnya kalau kamu cerita ke teman yang ambisinya nggak ketulungan
buat meniti karir di kantor kamu, bisa-bisa kamu dibilang nggak mampu dan nggak
cocok bekerja di kantor kalian. Kan malah jadi tambah sebel dan stres gara-gara
omongannya.
Atur Respon di Antara Pekerjaan
Kita harus bisa
untuk belajar melepaskan diri di sela-sela pekerjaan. Kalau tiba waktunya jam
istirahat, ya beristirahat lah. Ingat, khusus buat kamu yang kerja kantoran
masih “ikut” orang lain nggak usah itu namanya ngoyo-ngoyo banget.
Sesungguhnya perusahaan nggak peduli-peduli amat sama kamu apalagi sama
kesehatan kamu, apalagi sama kesehatan mental kamu.
Karena kita kan
hidup di negara kapitalis, semua harus serba cepat, semua harus serba
terselesaikan dengan sempurna demi kemakmuran perusahaan yang membuat kita
berubah menjadi robot. Padahal robot pun tetap butuh waktu istirahat, tetap
butuh perawatan, ganti oli, cek mesin. Iya nggak?
Jam makan, ya
makan. Jam istirahat, ya istirahat. Coba belajar benar-benar melepaskan
pekerjaan saat jenuh menghampiri. Misal saja kamu bisa membaca novel, atau
menulis sesuatu di buku catatan kamu, telpon orang rumah (suami, anak-anak,
atau ayah ibumu), atau kamu juga bisa rencanakan makan siang ngobrol bareng
teman yang bukan sekantor. Hindari pembicaraan tentang pekerjaan.
Belajar Menerima Tekanan Pekerjaan
Sikap bisa
menerima tekanan pekerjaan juga harus dimiliki setiap orang yang tahu segala
konsekuensinya bila bekerja di tempat tersebut. Seorang tentara pasti juga tahu
kalau ada tekanan pekerjaan tersendiri saat menjalankan tugas, seperti harus
selalu siaga saat diperlukan, siap diperintah kemanapun oleh komandan, siap
membawa beban berat di punggungnya yang berisi perlengkapan perang, harus siap
mengatasi ancaman bahaya dari serangan musuh.
Kita pun sama,
semua pekerjaan ada risiko dan tekanan pekerjaannya masing-masing. Lha kok enak
bekerja tapi nggak ada tekanan pekerjaan, malah bahaya untuk kemajuan
perusahaan itu. Kamu yang seorang marketing
tentu berbeda tekanan pekerjaannya dengan orang bagian accounting. Ya nggak usah banyak ngeluh, terima saja. Kalau sudah
benar-benar nggak kuat, bisa kok bilang ke atasan kamu atau kalau perlu cari
pekerjaan di tempat lain yang sekiranya bisa membuat kamu lepas dari tekanan
pekerjaan yang tak kamu inginkan.
Tetap Tidak Melakukan Apa-apa
Kadang kita juga
perlu yang namanya doing nothing. Tak
perlu risau kalau kamu lagi nggak megang pekerjaan. Segala sesuatu ada skala
prioritas, dan prioritas pun juga berhubungan dengan tenggat waktu. Tidak semua
pekerjaan harus selesai sesuai tenggat waktu yang disuruh boss kamu. Kalau aku
sih nyantai aja ya kalau pekerjaan di kantor memang belum kelar.
Saat pulang ke
rumah, siapkan pikiran dan perasaan kamu untuk orang rumah. Kasihan juga kan
kalau sampai rumah, orang yang sudah menantikan kehadiran kita malah dicuekin
gara-gara mood kita jelek abis. Suami jadi ikutan bete, anak-anak jadi cemberut
liat mamanya pulang-pulang mukanya kusut kayak benang kusut.
Kalau sampai
berlarut-larut tentu akan membahayakan relasi yang terjalin dengan baik selama
ini di rumah.
So, semoga habis
baca ceritaku ini kamu nggak lagi kebawa mimpi pekerjaan kamu ya.
image: Pawel Rekas

No comments:
Post a Comment