Thursday, March 21, 2019

Laki-laki diciptakan memiliki kelebihan salah satunya dan sepertinya memang satu-satunya, adalah merespon lebih cepat melalui visualnya atau penglihatannya. Ya nggak tahu juga apa maksud Yang Kuasa menciptakan manusia bernama laki-laki seperti itu. Makanya jangan heran kalau kamu panggil-panggil suami yang lagi main handphone atau nonton tivi nggak langsung jawab. Sekali dipanggil, diam saja. Dua kali dipanggil masih diam saja. Baru ketiga kali kita teriak panggil namanya, eh dia bilang “Kok panggil pakai teriak segala sih, nggak bisa pelan?” Kan emosi jiwa ya.. Hihihii...



Mungkin bapak-bapak era sekarang sudah agak beda kebiasaanya dibanding bapak-bapak era pak Harto dulu, cara memanfaatkan waktu senggangnya entah di rumah maupun di kantor. Kalau dulu sambil sarapan di rumah, baca koran. Sesampai di rumah usai bekerja seharian, minum kopi sambil nonton tivi. Tapi sekarang bapak-bapak milenial sudah mengalihkan fungsi matanya untuk melihat yang bening-bening di media sosial.
Pernah dengar kan meme atau anekdot di media sosial yang ini, “Lihat yang bening dikit, follow! Lihat yang kece dikit, follow! Lihat yang ehem-ehem dikit, follow!”
Sadis nggak tuh kelakuannya bapak-bapak jamannya pak Jokowi ini?

Modus Operandi Lelaki di Media Sosial

Aku beritahu ya bagaimana para lelaki khususnya bapak-bapak melaksanakan operasi militernya di media sosial. Dengan sandi ISIS (Inbox Sana Inbox Sini), bapak-bapak memulai aksinya dengan cara:

Bikin akun ganda.

Kan nggak asik ya punya akun sosmed entah itu Facebook, IG, Twitter yang ada istrinya juga di sana. Nah biasanya mereka membuat satu akun lagi (bahkan bisa lebih dari satu) untuk mengelabui sang istri. Dengan nama yang berbeda, dengan foto profil mobil, mulai bergerilya menambahkan teman perempuan yang; sori ini jadi agak seksis, cantik, putih, menarik, seksi, dan lain sebagainya yang sesuai dengan kriteria matanya.

Bikin akun di media sosial yang berbeda dari istri atau anak-anaknya.

Serupa dengan bikin akun ganda tadi, tapi ini bapak-bapak bikin akun di media sosial lain yang istri dan anaknya nggak ada di situ. Kalau istri main Facebook, dia buka akun Twitter. Kira-kira begitu.

ISIS (Inbox Sana Inbox Sini)

Daaaaannn selanjutnya adalaaahhh... Mulai deh ada semacam gerakan sejuta like and comment. Tak berhenti di situ, komunikasi via inbox menjadi sarana yang sangat prospektif bagi bapak-bapak itu.

Mata lelaki memang begitu ibu-ibu sekalian, nggak bisa diajak kompromi kalau soal lihat perempuan cantik. Nggak pandang bulu, entah perempuan yang dijadikan target itu sudah bersuami atau belum, pokoknya main syosyorajah.

Karena yang perlu diingat dari kelakuan lelaki adalah,

ISENG-ISENG BERHADIAH

Ya mereka memang iseng, siapa tahu dapat hadiah. Nah disinilah keteguhan prinsip perempuan diuji. Sikap perempuan memberikan respon ajakan berkenalan, ajakan ketemuan, ajakan doing something dari bapak-bapak weird itu, menjadi KOENTJI bahwa kita perempuan yang bermartabat dan mempunyai harga diri yang tak bisa dipermainkan oleh lelaki manapun.

Nah, yang jadi soal adalah sebagai istri itu lho, kadang kita nggak tahu bagaimana kelakuan suami saat di luar rumah atau saat bermain sosial media. Ini yang agak susah membuktikannya. Kalau kita terlalu percaya satu juta persen, betapa naifnya kita. Jangan bodoh!

Kalau kita terlalu menyelidik dan full of curigation tentu akan membuat hubungan menjadi tak indah lagi, dibilang tak percaya dengan suami. Dilema dan membingungkan bukan.

Jadi solusinya adalah, aku belum ada solusi jitu soal ini sih. Tapi kira-kira begini, solusinya:

Komunikasikan tentang Sosial Media

Bicarakan apa yang menjadi keresahan kamu  sebagai istri tentang penyalahgunaan media sosial. Suami pasti akan bisa memahami apa yang kamu maksudkan. Kalau perlu nggak punya akun media sosial juga nggak akan membuat dunia runtuh kok, masih bisa hidup, masih bisa makan. Bijaksanalah menyikapi media sosial ini.

Quality Time

Mungkin klise ya soal quality time ini, tapi memang benar kalau setiap hubungan yang terjalin harus diikuti dengan kualitas waktu pertemuan, kualitas komunikasi di antara kita dan pasangan. Dengan begitu suami pun menjadi merasa tak perlu lagi mencari ”hiburan” lagi di tempat lain entah di sosial media maupun di sana, di tempat jelek-jelek itu.

Jadi, para bapak yang budiman, sebaiknya bijaksanalah menggunakan mata Anda sebagai penglihatan. 
Bukan salah mata Anda, karena semua kembali kepada hati. Jika kita memiliki hati yang baik dan benar, maka pemandangan seperti apapun yang menarik di mata kita, akan menjadi biasa saja tanpa makna. Karena yang terutama adalah keluarga, yang nyata bagi kehidupan kita.

Ini sebenarnya aku cerita ini bukan hanya buat kaum bapak sih, tapi kaum ibu juga sekarang mempunyai kans yang sama untuk terjerumus pada jurang perselingkuhan yang berawal dari sosial media.

Fatamorgana keindahan di sosial media itu hanyalah sementara, tak ada gunanya. Yang berguna untuk kehidupan kita sekarang dan mendatang adalah hadirnya keluarga di dalam kehidupan kita. Kepada siapa lagi kita kembali saat mengalami banyak hal tidak menyenangkan, menyakitkan, kalau nggak kembali ke rumah.

Terus apa lagi ya? Udah, gitu aja dulu ceritaku hari ini.



image: Peticasso


No comments:

Post a Comment