Laki-laki diciptakan memiliki kelebihan salah satunya dan sepertinya memang satu-satunya, adalah merespon lebih cepat melalui visualnya atau penglihatannya. Ya nggak tahu juga apa maksud Yang Kuasa menciptakan manusia bernama laki-laki seperti itu. Makanya jangan heran kalau kamu panggil-panggil suami yang lagi main handphone atau nonton tivi nggak langsung jawab. Sekali dipanggil, diam saja. Dua kali dipanggil masih diam saja. Baru ketiga kali kita teriak panggil namanya, eh dia bilang “Kok panggil pakai teriak segala sih, nggak bisa pelan?” Kan emosi jiwa ya.. Hihihii...
Mungkin
bapak-bapak era sekarang sudah agak beda kebiasaanya dibanding bapak-bapak era
pak Harto dulu, cara memanfaatkan waktu senggangnya entah di rumah maupun di
kantor. Kalau dulu sambil sarapan di rumah, baca koran. Sesampai di rumah usai
bekerja seharian, minum kopi sambil nonton tivi. Tapi sekarang bapak-bapak
milenial sudah mengalihkan fungsi matanya untuk melihat yang bening-bening di
media sosial.
Pernah dengar kan
meme atau anekdot di media sosial
yang ini, “Lihat yang bening dikit, follow! Lihat yang kece dikit, follow!
Lihat yang ehem-ehem dikit, follow!”
Sadis nggak tuh
kelakuannya bapak-bapak jamannya pak Jokowi ini?
Modus Operandi Lelaki di Media
Sosial
Aku beritahu ya
bagaimana para lelaki khususnya bapak-bapak melaksanakan operasi militernya di
media sosial. Dengan sandi ISIS (Inbox Sana Inbox Sini), bapak-bapak memulai
aksinya dengan cara:
Bikin akun ganda.
Kan nggak asik ya
punya akun sosmed entah itu Facebook, IG, Twitter yang ada istrinya juga di
sana. Nah biasanya mereka membuat satu akun lagi (bahkan bisa lebih dari satu)
untuk mengelabui sang istri. Dengan nama yang berbeda, dengan foto profil
mobil, mulai bergerilya menambahkan teman perempuan yang; sori ini jadi agak
seksis, cantik, putih, menarik, seksi, dan lain sebagainya yang sesuai dengan
kriteria matanya.
Bikin akun di media sosial yang
berbeda dari istri atau anak-anaknya.
Serupa dengan
bikin akun ganda tadi, tapi ini bapak-bapak bikin akun di media sosial lain
yang istri dan anaknya nggak ada di situ. Kalau istri main Facebook, dia buka
akun Twitter. Kira-kira begitu.
ISIS (Inbox Sana Inbox Sini)
Daaaaannn
selanjutnya adalaaahhh... Mulai deh ada semacam gerakan sejuta like and comment. Tak berhenti di situ,
komunikasi via inbox menjadi sarana yang sangat prospektif bagi bapak-bapak
itu.
Mata lelaki
memang begitu ibu-ibu sekalian, nggak bisa diajak kompromi kalau soal lihat
perempuan cantik. Nggak pandang bulu, entah perempuan yang dijadikan target itu
sudah bersuami atau belum, pokoknya main syosyorajah.
Karena yang perlu
diingat dari kelakuan lelaki adalah,
ISENG-ISENG BERHADIAH
Ya mereka memang
iseng, siapa tahu dapat hadiah. Nah disinilah keteguhan prinsip perempuan
diuji. Sikap perempuan memberikan respon ajakan berkenalan, ajakan ketemuan,
ajakan doing something dari
bapak-bapak weird itu, menjadi
KOENTJI bahwa kita perempuan yang bermartabat dan mempunyai harga diri yang tak
bisa dipermainkan oleh lelaki manapun.
Nah, yang jadi
soal adalah sebagai istri itu lho, kadang kita nggak tahu bagaimana kelakuan
suami saat di luar rumah atau saat bermain sosial media. Ini yang agak susah
membuktikannya. Kalau kita terlalu percaya satu juta persen, betapa naifnya
kita. Jangan bodoh!
Kalau kita
terlalu menyelidik dan full of curigation
tentu akan membuat hubungan menjadi tak indah lagi, dibilang tak percaya dengan
suami. Dilema dan membingungkan bukan.
Jadi solusinya
adalah, aku belum ada solusi jitu soal ini sih. Tapi kira-kira begini,
solusinya:
Komunikasikan tentang Sosial Media
Bicarakan apa
yang menjadi keresahan kamu sebagai
istri tentang penyalahgunaan media sosial. Suami pasti akan bisa memahami apa
yang kamu maksudkan. Kalau perlu nggak punya akun media sosial juga nggak akan
membuat dunia runtuh kok, masih bisa hidup, masih bisa makan. Bijaksanalah
menyikapi media sosial ini.
Quality Time
Mungkin klise ya
soal quality time ini, tapi memang
benar kalau setiap hubungan yang terjalin harus diikuti dengan kualitas waktu
pertemuan, kualitas komunikasi di antara kita dan pasangan. Dengan begitu suami
pun menjadi merasa tak perlu lagi mencari ”hiburan” lagi di tempat lain entah
di sosial media maupun di sana, di tempat jelek-jelek itu.
Jadi, para bapak
yang budiman, sebaiknya bijaksanalah menggunakan mata Anda sebagai penglihatan.
Bukan salah mata Anda, karena semua kembali kepada hati. Jika kita memiliki
hati yang baik dan benar, maka pemandangan seperti apapun yang menarik di mata
kita, akan menjadi biasa saja tanpa makna. Karena yang terutama adalah
keluarga, yang nyata bagi kehidupan kita.
Ini sebenarnya
aku cerita ini bukan hanya buat kaum bapak sih, tapi kaum ibu juga sekarang
mempunyai kans yang sama untuk terjerumus pada jurang perselingkuhan yang
berawal dari sosial media.
Fatamorgana
keindahan di sosial media itu hanyalah sementara, tak ada gunanya. Yang berguna
untuk kehidupan kita sekarang dan mendatang adalah hadirnya keluarga di dalam
kehidupan kita. Kepada siapa lagi kita kembali saat mengalami banyak hal tidak
menyenangkan, menyakitkan, kalau nggak kembali ke rumah.
Terus apa lagi
ya? Udah, gitu aja dulu ceritaku hari ini.

No comments:
Post a Comment