Wednesday, March 13, 2019

Ketika Setia Hanya Sekadar Kata

Sebuah kata yang terlalu biasa kita dengar saat kita berbicara tentang sebuah hubungan dengan pasangan. Saking biasanya sampai kita kadang lupa kalau kata ini mengandung sejuta makna yang seringkali kita sendiri pun tak menyadari keberadaannya.


Berapa banyak kita dengar kisah dari orang yang kita kenal harus mengalami kepedihan mendalam karena kehilangan kata ini saat menjalani kehidupan bersama pasangannya.

Seolah di era modern dengan kemudahan teknologi komunikasi justru yang semakin sering kita dengar adalah kata selingkuh, cinta terlarang. Setia sampai mati kini hanyalah isapan jempol belaka.

Standar dalam memaknai kesetiaan setiap orang berbeda-beda. Ada yang mengatakan selama tidak terjadi hubungan badan, masih dapat ditoleransi dan dianggap belum melakukan perselingkuhan. Tapi ada juga yang menganggap bahwa berkomunikasi intens dengan lawan jenis, atau pergi berdua saja dengan lawan jenis, itu sudah masuk dalam kategori perselingkuhan.

Sosial media sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap pemaknaan kesetiaan dalam sebuah hubungan. Meskipun ini adalah dunia maya, namun ternyata secara psikologis manusia yang aktif di media sosial turut menyertakan perasaannya saat berkomunikasi dengan lawan jenis.

Contoh sederhana saja, kita memposting sesuatu akan merasa senang saat disukai dan dikomentari oleh orang lain, apalagi oleh lawan jenis dan tentu saja makin bahagia ketika nama seseorang yang mempunyai tempat khusus di hati ada di sana memberikan komentarnya yang menarik dan lucu.

Belum lagi kalau kata-katanya penuh dengan rayuan dan pujian terhadap apa yang kita posting, entah itu hanya kata-kata atau foto-foto kita.

Seakan menjadi lebih mudah rapuh saat seseorang berada di dunia maya. Sementara keadaan di dunia nyata seakan tak seindah di dunia maya.

Tapi tahukah kamu, kalau dunia maya hanyalah dunia ilusi. Sama sekali tak menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Apa yang kita lihat di sana hanyalah sebuah kepingan kecil dari apa yang terjadi secara keseluruhan dari hidup seseorang.

Yang tampak bahagia, ternyata sedang mengalami kesedihan begitu rupa. Sementara yang tampak galau meracau kesenduan, ternyata hidupnya asyik-asyik saja. Kita tak pernah tahu.

Kembali kepada soal kesetiaan.

Setiap hari sesungguhnya kita sedang diuji dengan kesetiaan. Kita tak pernah tahu kapan ujian itu datang. Godaan akan selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Sebuah contoh kasus sederhana di Facebook, bermula dari like status, hingga saling berbalas komentar, dan akhirnya saling bertukar nomor handphone agar lebih mudah berkomunikasi, berpotensi besar membawa pengaruh tidak baik terhadap sebuah hubungan yang sudah ada sebelumnya bersama pasangan.

Singkat kata, potensi perselingkuhan sangat besar dengan adanya media sosial.

Kamu yang perempuan, pasti sering menerima pesan di inbox dari laki-laki yang berusaha mengenal kamu lebih jauh. Seringkali laki-laki tak ambil pusing dengan status kamu yang sudah menikah atau belum. Sebuah prinsip laki-laki yang dari dulu hingga kini masih sama, iseng-iseng berhadiah.

Siapa tahu dapat, toh kalau tidak juga tak mengapa. Siapa tahu.

Dan kamu yang laki-laki, benar begitu kan? Di antara kamu yang membaca tulisanku ini, pasti ada yang aktif mengirimkan pesan kepada lawan jenis media sosial. Nggak cuma satu, pasti lebih dari satu.

Aku pahami dan sedikit memaklumi mau tidak mau ini adalah risiko yang harus dihadapi pasangan jaman sekarang. Seringkali kita dapati apa yang dirasakan di dunia nyata, kita bawa ke dunia maya. Orang lain yang melihat tentu akan berpikiran macam-macam. Ini yang sering khususnya perempuan tak menyadari bahwa serigala itu ada di sana sedang mengintai dan bersiap menyergap.

Saling

Setia selalu diartikan setia terhadap suatu hal lain. Setia terhadap apa? Setia kepada siapa?

Kata setia tidak pernah dimaknai sebagai kata tunggal berdiri sendiri.

Ambil contoh, setia terhadap NKRI, setia kepada pasangan. Bila kita setia dengan pasangan, apa yang kita harapkan dilakukan oleh pasangan kita? Tentu kita menginginkan kesetiaan yang sama bukan dari dia. Maka dari itu kesetiaan adalah hal yang harus saling dilakukan.

Aku setia tapi kamu nggak setia, buat apa? Itu bukan saling, melainkan timpang.

Sebuah hubungan haruslah balance dalam arti mampu memberikan keseimbangan dalam hal memberi dan menerima termasuk soal kesetiaan.

Kesetiaan harus diusahakan

Nggak mungkin juga kan menjadi anti sosial hanya karena mengantisipasi agar tidak diuji kesetiaan kita terhadap pasangan. Kita tetap harus bersosialisasi dengan orang lain. Sebagai perempuan, tetap harus memiliki prinsip-prinsip dalam bersosialisasi khususnya dengan lawan jenis.

a. Jangan curhat dengan lawan jenis

Apapun situasi dan kondisi hubungan kamu saat ini, jangan pernah ceritakan kepada lawan jenis. Apa lagi bercerita di tempat khusus hanya berdua saja sambil menikmati makan malam.

Silakan tetap berteman dengan siapapun, tapi ingat jangan pernah melakukan itu.

b. Tahu kapan berhenti berkomentar 

Tahu sendiri kan kalau lagi asyik saling berbalas komentar di media sosial, seolah sangat menggembirakan nun membahagiakan. Dan tak jarang guyonan di sana menjadi sulit terkontrol cenderung menyerempet kepada omongan tak pantas.

Sebagai perempuan, kamu harus tahu dan paham arah pembicaraan itu. Terbawa arus permainan kata-kata akan membuatmu semakin sulit untuk keluar dari sana.

Caranya gampang kok, cukup balas kata-kata mereka dengan emoticon atau stiker saja maka komentar akan berhenti dengan sendirinya.

Nggak enak juga kan kalau komentar teman nggak ditanggapin.


Setialah sampai mati.



No comments:

Post a Comment